"Apa aku terlalu memujinya?", "Tidak, kamu tengah memujanya" kata sahabatku
"Indra" namanya. Nama pasaran yang hampir disetiap kelas ada. Tapi ditelingaku, nama ini istimewa. Kenapa dia begitu istimewa, aku sendiri tak memiliki alasan untuk itu. Hanya saja ketika melihat senyumnya, mendengar tawanya, dan menatap matanya aku selalu merasa dia istimewa. Sayangnya aku terlalu kaku dan berkeras hati untuk mengakuinya. Mungkin malu, mungkin segan, mungkin gengsi atau mungkin aku takut. Dimataku indra begitu sempurna, baik, tampan, jenius disegala bidang, easy going, berteman dengan semua orang, ramah, disenangi guru... oops, apakah aku terlalu memujinya? "Tidak, kamu sedang memujanya" begitu kata Ully, sahabatku.
Sayangnya, bukan hanya aku yang melihat sosoknya mendekati sempurna. Pernah satu kali ketika pelajaran olah raga, ada satu kawan perempuan yang mendekatiku. Dengan suara lirih dia mulai bertanya mengenai sosok indra yang sebenarnya. Ya, meski supel dan banyak teman, indra termasuk sosok misterius yang sedikit teman yang tau mengenai keluarga dan kehidupan pribadinya. Aku sendiri sebenarnya belum terlalu mengenalnya, hanya saja banyak teman yang menilai kami dekat karena kami sering berbincang. Padahal sebenarnya kami dekat hanya karena dia duduk tepat didepan bangkuku. Selebihnya, sama dengan teman-teman yang lain dikelas.
Beberapa kali teman perempuan yang lain juga mengorek informasi tentangnya. Apa yang aku lihat, memang tidak salah, dia istimewa. Sayangnya, karena hal ini aku menjadi berkecil hati dan semakin mengubur kekagumanku padanya. Perlahan menjauhkan diri untuk menghapus perasaanku. Akupun berusaha menjauhinya. Bukan salahnya memang, dia casanova yang bukan casanova. Idola yang sebenarnya tak ingin diidolakan. Banyak yang menyukainya, tapi bukan salahnya. Dia hanya berusaha menjadi teman yang baik. Itu saja. Tapi mungkin banyak diantara kami yang salah tingkah dengan sikapnya.
Semakin hari, semakin banyak teman yang aku tau menyukainya. Ah,, aku tidak bisa bersaing di liga ini. Aku hanya gadis tomboy, tidak cantik dan tidak terlalu pintar untuk bersaing dengan teman-teman sekelasku. Seolah menyerah sebelum bertanding, aku mengundurkan diri dari kompetisi ini. Memutuskan untuk bersahabat dengannya dan memasukkan kedalam peti semua perasaanku, menguburnya dalam-dalam. Mungkin suatu saat nanti, peti ini bisa kugali lagi. Semoga..
-to be continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar