Senin, 01 September 2014

In'd Rain ch. 1: Our First Met

"Segera, setelah pertama kali aku melihatnya, aku tau dia adalah hujan yang akan menciptakan mendung dan pelangi dikehidupanku selanjutnya"

Pagi ini, hari pertamaku bersekolah di sebuah sekolah menengah pertama. Sekolahku memang bukan sekolah terfavorit dikota tempat tinggalku, tapi berdasarkan hasil tes penerimaan siswa baru tahun ini, sekolah ini mendapatkan bibit-bibit unggulan yang melebihi sekolah terfavorit dikota ini. Menjadi salah satu dari 300 orang yang diterima disekolah ini, menjadi kebanggaan sekaligus kekhawatiran tersendiri bagiku. Maklum saja, aku bukan termasuk murid yang super talented atau yang ekstra ordinary pandai. Aku murid biasa yang paling banter menempati posisi ranking 3 besar dikelas, nothing special. Jadi sangat wajar jika aku sedidkit gugup untuk memulai hari-hariku disekolah ini.


Pagi ini aku awali dengan ketegangan luar biasa, karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang super kompetitif, pikirku. Dan karena tegangnya, akupun terlambat bangun dan harus tergesa-gesa berangkat sekolah. Oops, aku lupa bercerita, disini aku diterima bersama seorang sahabatku sedari TK, Ully namanya. Dan aku berharap pagi ini aku mendapat berita gembira bahwa kami berada dikelas yang sama :D

Setelah selesai upacara, kami masuk ke kelas kami masing-masing. Berhubung aku datang nyaris terlambat, aku harus mencari namaku terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas. Aku masuk ke kelas I B, dan berdasarkan nomor pendaftaran, Ully ada dikelas yang sama denganku. Ada hal yang harus dia urus terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kelas, dan akupun menunggunya.

Kami masuk kedalam kelas terlambat dan semua meja telah terisi penuh. Hanya tersisa 2 meja dengan masing-masing 1 kursi kosong karena kursi disebelahnya telah diduduki. Kami ragu-ragu untuk duduk, karena 2 meja itu berisi murid laki-laki. Bukan kami menolak berteman dengan lawan jenis, akan tetapi ini untuk ketentraman bersama. Kami berdiri cukup lama didepan kelas, tanpa sepatah katapun terucap, berharap kedua murid laki-laki itu mengerti dan memberi kami 2 kursi di meja yang sama. Beruntung, salah satu dari mereka mengalah dan memberikan kursinya kepada kami.

Aku hanya bisa berterimakasih dengan senyum canggung, karena ini adalah hari pertama kita bertemu. Sejujurnya, sejak pertama kali aku melalui pintu kelas ini, dia adalah murid yang paling menarik perhatianku. Entah karena apa, tapi aku hanya yakin, dia yang akan menjadi hujan yang membawa mendung dan membuat pelangi dikehidupanku selanjutnya. I've fallen for him... boy who give up his seat for us, thankyou.

-to be continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar