Senin, 01 September 2014

In'd Rain ch. 2: Yang Teristimewa, Casanova?

"Apa aku terlalu memujinya?", "Tidak, kamu tengah memujanya" kata sahabatku

"Indra" namanya. Nama pasaran yang hampir disetiap kelas ada. Tapi ditelingaku, nama ini istimewa. Kenapa dia begitu istimewa, aku sendiri tak memiliki alasan untuk itu. Hanya saja ketika melihat senyumnya, mendengar tawanya, dan menatap matanya aku selalu merasa dia istimewa. Sayangnya aku terlalu kaku dan berkeras hati untuk mengakuinya. Mungkin malu, mungkin segan, mungkin gengsi atau mungkin aku takut. Dimataku indra begitu sempurna, baik, tampan, jenius disegala bidang, easy going, berteman dengan semua orang, ramah, disenangi guru... oops, apakah aku terlalu memujinya? "Tidak, kamu sedang memujanya" begitu kata Ully, sahabatku. 

In'd Rain ch. 1: Our First Met

"Segera, setelah pertama kali aku melihatnya, aku tau dia adalah hujan yang akan menciptakan mendung dan pelangi dikehidupanku selanjutnya"

Pagi ini, hari pertamaku bersekolah di sebuah sekolah menengah pertama. Sekolahku memang bukan sekolah terfavorit dikota tempat tinggalku, tapi berdasarkan hasil tes penerimaan siswa baru tahun ini, sekolah ini mendapatkan bibit-bibit unggulan yang melebihi sekolah terfavorit dikota ini. Menjadi salah satu dari 300 orang yang diterima disekolah ini, menjadi kebanggaan sekaligus kekhawatiran tersendiri bagiku. Maklum saja, aku bukan termasuk murid yang super talented atau yang ekstra ordinary pandai. Aku murid biasa yang paling banter menempati posisi ranking 3 besar dikelas, nothing special. Jadi sangat wajar jika aku sedidkit gugup untuk memulai hari-hariku disekolah ini.